Halaman

Kamis, 05 Maret 2015

Hamparan tak berujung

Aku ingat, saat kita pertama kali berjumpa. tugas itu yang mempertemukan kita.
aku ingat, bagaimana percakapan singkat kita bermula, antara junior-senior; tak ada beda.
aku ingat, bagaimana kita tertawa bersama saat dulu kala;sebelum semuanya muncul perlahan.

ya. aku adalah serpihan dari masa lalumu.

ingatkah kau? saat kita bertutur kata ringan dalam pesan singkat yang kuakhiri dengan pesan, "sekolah dek, sekolah"
ingatkah kau? saat kita terpaksa harus mengerjakan kewajiban kita berdua dikarenakan sang ketua tengah dalam kondisi tak memungkinkan.
tugas sederhana itu mempertemukan kita. siapa sangka sejengkal demi sejengkal percakapan kita berujung pada percakapan-percakapan hingga pagi menyapa.

apakah kamu masih mengingat bagaimana kekesalanmu yang tak dapat kau tutupi karena aku yang berkali-kali salah mengirimkan format pesan singkat yang hendak kau kirimkan kepada yang lain? ah. mungkin kamu telah lupa.

berbagai pesan singkat itu menghantarkan kita pada perasaan yang sama.
namun apa daya, kala itu kau bersamanya.

aku hendak mundur perlahan, karena kutahu, kau miliknya.
namun apadaya, kau mencengkeramku lebih kuat, seakan mengungkapkan "jangan pergi, tunggulah sejenak. aku akan menuntaskan ini perlahan"

dua minggu kau berikanku jangka waktu untuk menunggumu.
.
.
.
.

siapa sangka? kau menepati janjimu, tak butuh waktu dua minggu, kau lebih memilihku daripadanya.

sedikit bisa bernafas lega, kita bersama walau tanpa ikatan pasti.


12 februari entah mengapa aku menyelidikimu melalui akun facebookmu, siapa sangka, kau berulang tahun keesokan harinya.
aku hanya menggodamu dengan berkata "minta kado apa?" permintaanmu sederhana, "keluar yuk besok sama aku"

jam berselang, kau dan aku bertemu,menyusuri jalanan pagi berdua.
siapa sangka, semenjak itu kata aku dan kamu pun membaur menjadi kita.

semenjak saat itu, kita semakin mengerti satu sama lain. mencoba memahami diri kita masing-masing

waktu berlalu, kita menjalaninya berdua. sampai suatu ketika merekapun tau, padahal kita tidak pernah mengungkapnya.
satu demi satu.


satu tahun berselang, hubungan kita semakin rumit. entah mengapa, mungkin tatkala diriku perlahan mulai menemukan kebenarannya, sayang.
hingga titik jenuhmu pun tiba.


aku merasa ada yang aneh dari dirimu saat kita berjumpa, aku merasakan hawa yang berbeda.

satu demi satu kebenaran terungkap. kau pergi dengannya bukan?
saat aku mencoba mengkorfirmasikan denganmu, kau hanya berkata "aku cuma temenan sm dia, pas km marah sm aku"
okelah memang ini salahku.

perlahan aku mulai sadar, bahwa ada yang lain diluar aku.
kucoba menelisik lebih dalam, benar saja. kamu pergi dengannya, berdua saja.
iya dengan dia, temanku sendiri. setega itukah kamu?

padahal kamu sendiripun mengerti, ada doa dalam hadiah yang kuberi saat usiamu menginjak 17 tahun...
....semoga tiap detik jam ini bergerak, akan selalu ada aku didalamnya, aku sayang kamu."....

siapa sangka, saat ini jam itu masih berputar, tanpa ada aku.
bahkan saat ini aku tahu, telah ada yang lain yang mengisi setiap detikmu.


mungkin aku yang terlalu bodoh, membiarkanmu pergi dariku karena tingkahku.

namun tahukah kamu ? aku jauh lebih menyayangimu.
karena aku tahu "aku tidak membiarkan orang yang aku sayang terbakar api neraka kelak karenaku"
aku tahu jalan yang kita tempuh salah, sehingga aku membiarkanmu pergi, agar kau tak tersentuh panasnya neraka.
dan satuhal, cinta akan tahu kemana dia akan pulang, sayang.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar