Halaman

Rabu, 08 Juli 2015

Jalan-Jalan ke Rumah Sakit, Yuk!

Jika diberi waktu libur panjang. Apa yang ada dibenak kalian untuk menjalani waktu yang ada? Pergi jalan-jalan untuk berekreasi bukan? Menurut kalian, apasih definisi dari tamasya?

Menurut KBBI rekreasi berarti penyegaran kembali badan dan pikiran; sesuatu yg menggembirakan hati dan menyegarkan spt hiburan.

Berlibur seperti sebuah kosakata yang menggembirakan dan ditunggu-tunggu oleh mayoritas masyarakat, dengan harapan individu dapat kembali menyegarkan pikiran mereka sehingga tidak terlalu penat dengan rutinitas harian yang ada. Kebanyakan masyarakat memilih lokasi liburan seperti pantai atau daerah pegunungan, sudah dapat dipastikan kedua lokasi tersebut akan disesaki oleh banyak wisatawan di musim liburan seperti saat ini. Namun, jika waktu dan biaya tidak memungkinkan untuk berlibur ke dua destinasi tersebut, tak ada salahnya anda berlibur ke Rumah Sakit. "Lhoh kok Rumah Sakit? Memangnya ada pantai di dalamnya? Ngapain juga ke rumah sakit?"

Jadi seperti ini ceritanya, saya tadi malam mengantarkan ibunda saya untuk berobat di sebuah rumah praktek daerah Nginden Intan Raya Surabaya. Lebih tepatnya, saya mengunjungi rumah praktek Prof. Dr. dr. Djoko Soemantri, Sp.Jp. Seorang profesor dalam dunia kedokteran spesialis jantung, saat itu ibu saya sedang kambuh tiroidnya, ibu saya mendapatkan nomor 6 pada antrian pasien, padahal ibu saya telah menelfon untuk mendapatkan nomor antrian sehari sebelumnya. Sembari menunggu ibu saya, saya sempatkan melihat sekeliling, mengamati suasana rumah praktek yang berdampingan dengan kamar praktek spesialis THT yang tak lain adalah istri dari Prof Djoko tersebut. Rumah praktek tersebut tertata apik, menyiratkan bahwa rupiah yang terkumpul melalui jasa praktek dokter tersebut tidak sedikit.
2 jam berselang, ibu saya diperiksa oleh dokter tersebut, baru kali itu saya bertemu dengan Prof Djoko, dan saya sangat terkagum-kagum dengan beliau, karena mampu menyelesaikan jenjang pendidikan hingga menempuh gelar doktor beserta profesor sekaligus, sedangkan saya masih berkutat dengan satu gelar yang belum usai *masih semeter 2-- lho kok jadi curhat*. Ibu saya diperiksa dengan alat-alat canggih dan kemudian, "berapa Dok?" "400 ribu" dalam benak saya, "MasyaAllah 400ribu😂" ternyata tidak cukup sampai disitu, ibu saya diharuskan untuk menebus obat di apotik yang sudah ditunjuk dan mas apoteker menujukkan selembar kertas putih bertuliskan jumlah uang yang harus ditebus untuk mendapatkan obat yakni 417.000 IYAA 400 RIBU PULAAA. Subhanallah 800 ribu pergi dengan mudahnya... Kemudian dikala menunggu ibu saya shalat sejenak, saya mengamati situasi yang ada, ada sebuah mobil yang menjemput perempuan muda berwajah pucat yang sedang didorong oleh seorang laki-laki paruh baya yang saya kita itu ayanya, dengan bersusah payah sang ayah harus membenarkan posisi mobil dan kembali untuk mendorong anaknya menuju mobil. Sang anak nampak begitu lesu, begitu pucat pasi, sedangkan sang ayah begitu ikhlas untuk mengusahakan kesembuhan sang anak. Saat itu, aku mengucap syukur yang luar biasa kepada Allah, kejadian itu seolah menamparku, mengingatkanku BERSYUKURLAH ZAKKKKK. Dan seolah menjawab komplainku kepada-Nya, terkadang terbersit pikiran kenapa doa-doaku tak kunjung Kau kabulkan ya Allah, kenapa? Padahal hamba sudah menjalankan kewajiban dan sunnahMu sebaik mungkin... Namun apa? Doa-doa hamba seolah hanya masuk daftar Waiting listmu ya Allah. Namun ketika saya menyaksikan hal tersebut, kepala saya seolah-olah sedang di bentuskan ke tembok, seolah-olah disadarkan dan saya tertunduk lesu, saya malu... Saya telah diberikan Allah begitu banyak Karunia-Nya, begitu banyak Rezeki yang Allah gelontorkan untuk saya tiada henti, namun saya masih juga komplain dan menganggap ini semua tidak adil...

Suatu nasihat untuk saya sendiri.
Memang Allah tidak selalu menjawab apa yang saya semogakan,
Memang Allah tak kunjung merealisasikan apa yang saya harapkan,
Karena Allah memberikan apa yang saya butuhkan, bukan apa yang saya inginkan,
Dan saya ingat nasihat kakek saya,
"Itu pertanda Allah sayang kamu.. Allah menyukai suaramu, Allah masih ingin terus mendengar desahan dalam tiap doamu, coba bayangkan jika Allah tidak menyukai suaramu, Wes ndang dikek i arek iku, gak seneng krungu suarane -sudah cepat diberi anak itu, tidak suka mendengar suaranya-"

Benar saja, sepulang dari tempat praktik itu, saya bersyukur, pikiran saya menjadi lebih fresh, lebih dapat mensyukuri hidup saya dengan menyadari bahwa jauh lebih banyak yang merasa tertekan, yang jauh lebih terlibat banyak masalah dibanding saya. Kembali ke definisi awal dari rekreasi yakni menyegarkan pikiran dan menggembirakan hati, jadi, pergi ke rumah sakit untuk mensyukuri hidup kita bukankah suatu rekreasi pula?
Untuk itu, yuk sekali-kali jalan-jalan ke Rumah sakit terdekat. Amati lingkungan sekitar... Syukuri masih diberi kesehatan, diberi umur panjang, diberi keluarga yang lengkap, diberi begitu banyak keistimewaan yang tidak terasa kita nikmati sehari-hari.

Jadi, bagaimana? Sudah bersyukur hari ini?

1 komentar:

Hety mengatakan...

Kak mohon bantuannya...
Jadwal praktek prof hari apa geh.
Soalnya sy dr madura

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar