Halaman

Selasa, 07 April 2015

marco

Aku duduk bersandar di ujung kamar yang beralaskan kasur tipis dengan balutan kain kuning penutup kasur. Aku menyendiri memandangi sekeliling kamar mungilku ini, tertata cukup apik, namun tidak terkesan sangat rapi. Saat aku mulai menyapukan pandanganku ke sekeliling kamar, mataku tertuju pada sebuah kemeja yang menggantung di sudut yang lain, kemeja dengan motif kotak-kotak yang mendominasi, kemeja itu berwarna coklat muda dengan kancing coklat tua yang menghiasi di tengah kemeja. Kemeja tersebut tergantung cukup rapi, namun sisi rapi tersebut tak nampak karena terhalang oleh jaket yang memiliki warna senada dengan kancing kemeja tersebut. Kemeja coklat tersebut tergantung pada sebuah gantungann baju hitam dengan aksen yang cukup unik, yang menurutku memiliki sisi seni pada aksen tersebut. Sembari aku memandangi dan mengamati kemeja itu dengan seksama, perlahan aku teringat mengenai siapa pemilik kemeja tersebut, aku mulai teringat mengenai kenangan yang pernah ia dan aku lewati bersama. Pemilik kemeja tersebut adalah Marco, laki-laki yang pernah mengisi kehidupanku. Aku masih ingat betul bagaimana ia menghabiskan sore bersamaku, kami seringkali berkeliling kompleks kecil kami, untuk menjalin relasi baik dengan tetangga dan menikmati waktu senggang yang ada. Memang saat kami berkeliling Marco lebih sering mengenakan kaos sporty dipadu celana pendek berwarna senada, kami seringkali berkeliling sembari membicarakan kejadian-kejadian yang kami alami di kelas hari itu. Aku dan Marco selalu mengakhiri sesi jalan sore kami di sebuah taman di tengah kompleks, kami sering memesan seporsi bakso lengkap dengan es degan yang tersedia. Bergurau bersama dan menjadikan setiap sore kami menjadi begitu berwarna. Saat sang fajar telah kembali ke peraduan, kami kemudian berjalan beriringan menuju Masjid Baiturrahman untuk menunaikan Shalat Maghrib, itulah rutinitas harian kami.
Namun sore itu nampak berbeda, Marco menemuiku dengan mengenakan kemeja coklat dipadu celana jeans berwarna biru tua. Aku sedikit heran dengan apa yang Marco kenakan, hanya saja saat itu aku berfikiran mungkin Marco sepulang bimbingan belum sempat berganti baju untuk menemuiku. Kami kemudian menjalani sore kami seperti biasa, berceloteh mengenai guru yang mengajar kami pagi itu, membicarakan beberapa gadget baru ditemani semangkuk mie ayam dan es jeruk manis, sederhana namun bermakna. Adzan berkumandang, kami melangkahkan kaki kami untuk menunaikan perintah-Nya dan kemudian kami pulang ke rumah kami masing-masing.
Tiga tahun berselang, aku dan Marco terpisah, ia saat ini sedang menempuh pendidikan di sebuah universitas negeri di ujung barat pulau jawa, sedangkan aku menempuh pendidikan di ujung lainnya. Aku tidak memiliki akses untuk mengontaknya kembali, terakhir kali, ia hanya menghubungiku melalui sebuah paket yang berisi kemeja coklat itu dan selembar kartu pos yang berbunyi “hai, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Kamu masih ingat aku kan? Jangan kangen ya, aku disini baik-baik saja kok. Tunggu aku pulang dengan gelar sarjana enam bulan lagi ya! Kamu apa kabar? Gausah sok nyariin aku deh, aku ga kemana-mana kok cuma pergi bentar aja, bentar lagi juga balik.” Dan hari ini, tepat enam bulan setelah aku menerima paket tersebut, namun aku belum juga mendapat kabar mengenai sahabatku yang satu ini. Sampai lima menit kemudian, aku mendengar suara ketukan pintu “tok..tok..tok..”

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar