Hari ini, aku terbangun dengan sangat jorok.
Bagaimana tidak, aku terbangun pukul setengah sepuluh pagiππππ Memang semalam aku baru tertidur pukul 12 malam, karena baru menginjakkan kaki di rumah pukul setengah 12 malam setelah menemani ibundaku pergi periksa.
Aku mendapati dua orang tetangga saya sedang menyiapkan dana kewajiban shadaqah harta usaha keluargaku. Sepintas saya mendengar ibu saya meminta salah seorang karyawan rumah untuk menukarkan uang menjadi pecahan di salah satu jasa penukaran uang tidak resmi di tepi jalan utama kotaku. Sepulang menukarkan uang, ia melaporkan bahwa jasa penukaran uang tersebut mematok biaya 10.000 per 100.000 rupiah uang yang ditukarkan, atau dengan kata lain mematok 10% dari jumlah penukaran uang, cukup banyak bukan? Sore harinya, ayahku mengajakku untuk bersepeda sejenak sembari menunggu waktu maghrib tiba, aku berkeliling menyusuri jalan yang dipenuhi para penjaja jasa penukaran uang, bahkan sang penjaja jasa berjajar cukup banyak di sepanjang jalan K.H Wahid Hasyim hingga jalan A. Yani, aku pengamati sang penjaja jasa mengajak sang anak menemani disampingnya, menunggu pelanggan dengan sabarnya. Kemudian aku dan ayahku berhenti sejenak di sebuah toko sepeda angin langganan kami, Toko Agung, toko sepeda yang seringkali ramai oleh pembeli, jarang sekali aku menemui toko tersebut sepi. Benar saja, saat kami memarkirkan sepeda di toko tersebut, banyak sekali calon pembeli yang melakukan transaksi, baik yang hanya melihat-lihat atau sudah melakukan transaksi jual-beli. Aku mendapati seorang ayah beserta anaknya tengah membeli sebuah sepeda mini berwarna oranye dipadu dengan warna kuning yang senada, setelah bertransaksi, sang ayah meminta bantuan salah satu karyawan toko untuk membantunya mengemas sepeda tersebut agar dapat dibawa pulang. Sang anak dengan antusias ingin segera pulang dan mencoba sepeda barunya, tersirat benar diwajahnya kegembiraan yang membuncah, walaupun tidak diungkapnya secara tersurat. Ketika sang karyawan mengemas dan mengikat sepeda angin diatas sepeda motor dengan cepat dan gesitnya, sang anak menunjukkan ekspresi seolah ingin meneriakkan, "Hati-hati Pak. Itu sepeda baruku!" Sang bapak dari anak tersebut pun dengan sabar membantu mengemas sepeda dan tersirat pula ekspresi bahagia sang bapak karena mampu membahagiakan sang anak. Aku pun tersenyum, dan menyadari begitu besar cinta kedua orang tua, begitu besar usaha mereka untuk membahagiakan buah hatinya. Terbukti di H-9 Hari Raya Idul Fitri, sang karyawan tersebut masih juga bekerja di toko sepeda itu, nampak peluh mendominasi sekujur pelipisnya ditengah terpaan matahari sore yang menyinari kala itu. Aku mencoba membayangkan, bagaimana bahagianya sang anak -dan juga kedua orangtuanya- ketika mereka mampu membahagiakan satu sama lain. Sebuah ikatan simbiosis mutualisme anak-orangtua. Dimana orangtua berusaha sebisa mungkin memberikan yang mereka punya demi keberlangsungan masa depan sang anak, dan anakpun melakukan sebaliknya, sebisa mungkin menunjukkan kemampuannya agar mampu membahagiakan orangtua mereka, walaupun dengan cara sederhana namun bermakna.
Kemudian, Apakah usaha anda untuk membahagiakan orangtua atau buah hati anda?
Rabu, 08 Juli 2015
Jalan-Jalan ke Rumah Sakit, Yuk!
Jika diberi waktu libur panjang. Apa yang ada dibenak kalian untuk menjalani waktu yang ada? Pergi jalan-jalan untuk berekreasi bukan? Menurut kalian, apasih definisi dari tamasya?
Menurut KBBI rekreasi berarti penyegaran kembali badan dan pikiran; sesuatu yg menggembirakan hati dan menyegarkan spt hiburan.
Berlibur seperti sebuah kosakata yang menggembirakan dan ditunggu-tunggu oleh mayoritas masyarakat, dengan harapan individu dapat kembali menyegarkan pikiran mereka sehingga tidak terlalu penat dengan rutinitas harian yang ada. Kebanyakan masyarakat memilih lokasi liburan seperti pantai atau daerah pegunungan, sudah dapat dipastikan kedua lokasi tersebut akan disesaki oleh banyak wisatawan di musim liburan seperti saat ini. Namun, jika waktu dan biaya tidak memungkinkan untuk berlibur ke dua destinasi tersebut, tak ada salahnya anda berlibur ke Rumah Sakit. "Lhoh kok Rumah Sakit? Memangnya ada pantai di dalamnya? Ngapain juga ke rumah sakit?"
Jadi seperti ini ceritanya, saya tadi malam mengantarkan ibunda saya untuk berobat di sebuah rumah praktek daerah Nginden Intan Raya Surabaya. Lebih tepatnya, saya mengunjungi rumah praktek Prof. Dr. dr. Djoko Soemantri, Sp.Jp. Seorang profesor dalam dunia kedokteran spesialis jantung, saat itu ibu saya sedang kambuh tiroidnya, ibu saya mendapatkan nomor 6 pada antrian pasien, padahal ibu saya telah menelfon untuk mendapatkan nomor antrian sehari sebelumnya. Sembari menunggu ibu saya, saya sempatkan melihat sekeliling, mengamati suasana rumah praktek yang berdampingan dengan kamar praktek spesialis THT yang tak lain adalah istri dari Prof Djoko tersebut. Rumah praktek tersebut tertata apik, menyiratkan bahwa rupiah yang terkumpul melalui jasa praktek dokter tersebut tidak sedikit.
2 jam berselang, ibu saya diperiksa oleh dokter tersebut, baru kali itu saya bertemu dengan Prof Djoko, dan saya sangat terkagum-kagum dengan beliau, karena mampu menyelesaikan jenjang pendidikan hingga menempuh gelar doktor beserta profesor sekaligus, sedangkan saya masih berkutat dengan satu gelar yang belum usai *masih semeter 2-- lho kok jadi curhat*. Ibu saya diperiksa dengan alat-alat canggih dan kemudian, "berapa Dok?" "400 ribu" dalam benak saya, "MasyaAllah 400ribuπ" ternyata tidak cukup sampai disitu, ibu saya diharuskan untuk menebus obat di apotik yang sudah ditunjuk dan mas apoteker menujukkan selembar kertas putih bertuliskan jumlah uang yang harus ditebus untuk mendapatkan obat yakni 417.000 IYAA 400 RIBU PULAAA. Subhanallah 800 ribu pergi dengan mudahnya... Kemudian dikala menunggu ibu saya shalat sejenak, saya mengamati situasi yang ada, ada sebuah mobil yang menjemput perempuan muda berwajah pucat yang sedang didorong oleh seorang laki-laki paruh baya yang saya kita itu ayanya, dengan bersusah payah sang ayah harus membenarkan posisi mobil dan kembali untuk mendorong anaknya menuju mobil. Sang anak nampak begitu lesu, begitu pucat pasi, sedangkan sang ayah begitu ikhlas untuk mengusahakan kesembuhan sang anak. Saat itu, aku mengucap syukur yang luar biasa kepada Allah, kejadian itu seolah menamparku, mengingatkanku BERSYUKURLAH ZAKKKKK. Dan seolah menjawab komplainku kepada-Nya, terkadang terbersit pikiran kenapa doa-doaku tak kunjung Kau kabulkan ya Allah, kenapa? Padahal hamba sudah menjalankan kewajiban dan sunnahMu sebaik mungkin... Namun apa? Doa-doa hamba seolah hanya masuk daftar Waiting listmu ya Allah. Namun ketika saya menyaksikan hal tersebut, kepala saya seolah-olah sedang di bentuskan ke tembok, seolah-olah disadarkan dan saya tertunduk lesu, saya malu... Saya telah diberikan Allah begitu banyak Karunia-Nya, begitu banyak Rezeki yang Allah gelontorkan untuk saya tiada henti, namun saya masih juga komplain dan menganggap ini semua tidak adil...
Suatu nasihat untuk saya sendiri.
Memang Allah tidak selalu menjawab apa yang saya semogakan,
Memang Allah tak kunjung merealisasikan apa yang saya harapkan,
Karena Allah memberikan apa yang saya butuhkan, bukan apa yang saya inginkan,
Dan saya ingat nasihat kakek saya,
"Itu pertanda Allah sayang kamu.. Allah menyukai suaramu, Allah masih ingin terus mendengar desahan dalam tiap doamu, coba bayangkan jika Allah tidak menyukai suaramu, Wes ndang dikek i arek iku, gak seneng krungu suarane -sudah cepat diberi anak itu, tidak suka mendengar suaranya-"
Benar saja, sepulang dari tempat praktik itu, saya bersyukur, pikiran saya menjadi lebih fresh, lebih dapat mensyukuri hidup saya dengan menyadari bahwa jauh lebih banyak yang merasa tertekan, yang jauh lebih terlibat banyak masalah dibanding saya. Kembali ke definisi awal dari rekreasi yakni menyegarkan pikiran dan menggembirakan hati, jadi, pergi ke rumah sakit untuk mensyukuri hidup kita bukankah suatu rekreasi pula?
Untuk itu, yuk sekali-kali jalan-jalan ke Rumah sakit terdekat. Amati lingkungan sekitar... Syukuri masih diberi kesehatan, diberi umur panjang, diberi keluarga yang lengkap, diberi begitu banyak keistimewaan yang tidak terasa kita nikmati sehari-hari.
Jadi, bagaimana? Sudah bersyukur hari ini?
Menurut KBBI rekreasi berarti penyegaran kembali badan dan pikiran; sesuatu yg menggembirakan hati dan menyegarkan spt hiburan.
Berlibur seperti sebuah kosakata yang menggembirakan dan ditunggu-tunggu oleh mayoritas masyarakat, dengan harapan individu dapat kembali menyegarkan pikiran mereka sehingga tidak terlalu penat dengan rutinitas harian yang ada. Kebanyakan masyarakat memilih lokasi liburan seperti pantai atau daerah pegunungan, sudah dapat dipastikan kedua lokasi tersebut akan disesaki oleh banyak wisatawan di musim liburan seperti saat ini. Namun, jika waktu dan biaya tidak memungkinkan untuk berlibur ke dua destinasi tersebut, tak ada salahnya anda berlibur ke Rumah Sakit. "Lhoh kok Rumah Sakit? Memangnya ada pantai di dalamnya? Ngapain juga ke rumah sakit?"
Jadi seperti ini ceritanya, saya tadi malam mengantarkan ibunda saya untuk berobat di sebuah rumah praktek daerah Nginden Intan Raya Surabaya. Lebih tepatnya, saya mengunjungi rumah praktek Prof. Dr. dr. Djoko Soemantri, Sp.Jp. Seorang profesor dalam dunia kedokteran spesialis jantung, saat itu ibu saya sedang kambuh tiroidnya, ibu saya mendapatkan nomor 6 pada antrian pasien, padahal ibu saya telah menelfon untuk mendapatkan nomor antrian sehari sebelumnya. Sembari menunggu ibu saya, saya sempatkan melihat sekeliling, mengamati suasana rumah praktek yang berdampingan dengan kamar praktek spesialis THT yang tak lain adalah istri dari Prof Djoko tersebut. Rumah praktek tersebut tertata apik, menyiratkan bahwa rupiah yang terkumpul melalui jasa praktek dokter tersebut tidak sedikit.
2 jam berselang, ibu saya diperiksa oleh dokter tersebut, baru kali itu saya bertemu dengan Prof Djoko, dan saya sangat terkagum-kagum dengan beliau, karena mampu menyelesaikan jenjang pendidikan hingga menempuh gelar doktor beserta profesor sekaligus, sedangkan saya masih berkutat dengan satu gelar yang belum usai *masih semeter 2-- lho kok jadi curhat*. Ibu saya diperiksa dengan alat-alat canggih dan kemudian, "berapa Dok?" "400 ribu" dalam benak saya, "MasyaAllah 400ribuπ" ternyata tidak cukup sampai disitu, ibu saya diharuskan untuk menebus obat di apotik yang sudah ditunjuk dan mas apoteker menujukkan selembar kertas putih bertuliskan jumlah uang yang harus ditebus untuk mendapatkan obat yakni 417.000 IYAA 400 RIBU PULAAA. Subhanallah 800 ribu pergi dengan mudahnya... Kemudian dikala menunggu ibu saya shalat sejenak, saya mengamati situasi yang ada, ada sebuah mobil yang menjemput perempuan muda berwajah pucat yang sedang didorong oleh seorang laki-laki paruh baya yang saya kita itu ayanya, dengan bersusah payah sang ayah harus membenarkan posisi mobil dan kembali untuk mendorong anaknya menuju mobil. Sang anak nampak begitu lesu, begitu pucat pasi, sedangkan sang ayah begitu ikhlas untuk mengusahakan kesembuhan sang anak. Saat itu, aku mengucap syukur yang luar biasa kepada Allah, kejadian itu seolah menamparku, mengingatkanku BERSYUKURLAH ZAKKKKK. Dan seolah menjawab komplainku kepada-Nya, terkadang terbersit pikiran kenapa doa-doaku tak kunjung Kau kabulkan ya Allah, kenapa? Padahal hamba sudah menjalankan kewajiban dan sunnahMu sebaik mungkin... Namun apa? Doa-doa hamba seolah hanya masuk daftar Waiting listmu ya Allah. Namun ketika saya menyaksikan hal tersebut, kepala saya seolah-olah sedang di bentuskan ke tembok, seolah-olah disadarkan dan saya tertunduk lesu, saya malu... Saya telah diberikan Allah begitu banyak Karunia-Nya, begitu banyak Rezeki yang Allah gelontorkan untuk saya tiada henti, namun saya masih juga komplain dan menganggap ini semua tidak adil...
Suatu nasihat untuk saya sendiri.
Memang Allah tidak selalu menjawab apa yang saya semogakan,
Memang Allah tak kunjung merealisasikan apa yang saya harapkan,
Karena Allah memberikan apa yang saya butuhkan, bukan apa yang saya inginkan,
Dan saya ingat nasihat kakek saya,
"Itu pertanda Allah sayang kamu.. Allah menyukai suaramu, Allah masih ingin terus mendengar desahan dalam tiap doamu, coba bayangkan jika Allah tidak menyukai suaramu, Wes ndang dikek i arek iku, gak seneng krungu suarane -sudah cepat diberi anak itu, tidak suka mendengar suaranya-"
Benar saja, sepulang dari tempat praktik itu, saya bersyukur, pikiran saya menjadi lebih fresh, lebih dapat mensyukuri hidup saya dengan menyadari bahwa jauh lebih banyak yang merasa tertekan, yang jauh lebih terlibat banyak masalah dibanding saya. Kembali ke definisi awal dari rekreasi yakni menyegarkan pikiran dan menggembirakan hati, jadi, pergi ke rumah sakit untuk mensyukuri hidup kita bukankah suatu rekreasi pula?
Untuk itu, yuk sekali-kali jalan-jalan ke Rumah sakit terdekat. Amati lingkungan sekitar... Syukuri masih diberi kesehatan, diberi umur panjang, diberi keluarga yang lengkap, diberi begitu banyak keistimewaan yang tidak terasa kita nikmati sehari-hari.
Jadi, bagaimana? Sudah bersyukur hari ini?
Langganan:
Komentar (Atom)